Susahnya Berkenalan dengan Diri Sendiri

Berkenalan dengan diri sendiri adalah hal yang paling susah. Terkesan mudah, namun sekali lagi, luar biasa susah. Contoh sederhana misalnya, ketika melakukan wawancara untuk mendapatkan sebuah pekerjaan. Dari beberapa wawancara pekerjaan yang pernah kulakukan, selalu atau pasti ada pertanyaan seperti ini “coba ceritakan tentang diri anda!”, “apa kelebihan dan kekuranganmu?”, “pengalaman apa yang menarik dalam hidupmu?”, “apa yang paling kamu senangi?”, dll. Ketika pertanyaan ini terlontar, aku tidak pernah bisa menjawab. Tidak tahu harus menjawab apa. Blank.

Kemudian, karena tidak mau menyerah, aku membeli dan membaca beberapa buku-buku tentang teknik-teknik wawancara, dan beberapa artikel-artikel tentang tips-tips wawancara. Dari semua buku itu, jawabannya sangat normatif, misalnya dalam artikel/buku tersebut menyatakan seperti ini: “untuk menjawab pertanyaan tentang diri anda, anda bisa menjawab: Saya orang Continue reading “Susahnya Berkenalan dengan Diri Sendiri”

Hebatnya SPOK dan KISS

Agak aneh kalo melihat kebelakang. Alam semesta punya caranya sendiri untuk membentuk kehidupan masing-masing orang. Semenjak kuliah dulu sampe sekarang aku “difitnah” sebagai jurnalis dan selalu diminta untuk mengisi materi-materi jurnalistik. Aku bukan ahlinya, tapi aku dipaksa oleh alam semesta :).

Saat awal masuk kampus, aku bergabung dengan Sintesa, sebuah pers mahasiswa di fisipol UGM. Caraku bergabung juga sangat aneh. Aku gak punya alasan apapun untuk datang dan mendaftar. Bahkan saat mendaftar, aku gak tau kalo itu pers mahasiswa :p. Yang menggerakkanku adalah semangat dan keinginan yang kuat yaitu “aku harus belajar banyak”. Dan alam semesta pun menjawabnya :). Di sini aku berproses bukan sebagai jurnalis yang benar-benar jurnalis. Kegiatannya lebih banyak nongkrong dari satu tempat ke tempat lain. Tapi karena aku dikenal sebagai anak Sintesa di mana-mana, maka aku selalu “difitnah” ahli dalam hal jurnalistik.
Continue reading “Hebatnya SPOK dan KISS”

Nada dalam Serakan Genting

teringat lagu anak-anak dulu, ‘tik.. tik… bunyi hujan di atas genting’. Di setiap tik… tik… muncul nada yang beraneka ragam. Kalo telaten, bisa jadi rangkaian lagu yang indah. Kemaren saat main ke Majalengka, ada komunitas yang bernama JAF (Jatiwangi Art Factory). JAF ini membuat lagu-lagu yang dimainkan dengan gaya perkusi. Yang istimewa adalah mereka menggunakan genting sebagai alat musiknya. Merdu. Mirip seperti suara air hujan yang jatuh di genting. Kalo hujan tidak berirama, nadanya acak, kali ini dibawah garapan Tedy, nada-nada tersebut disusun menjadi rangkaian lagu. woow… Kreatif memang.
Continue reading “Nada dalam Serakan Genting”

centang saja

Indonesia kali ini penuh warna-warni, tapi warna-warni menyesakan mata. Foto-foto caleg bertebaran di mana-mana. Sumpek. Sudah banyak yang mengkritik dan membahas soal ini, saya pikir intinya hampir sama bahwa kampanye melalui spanduk, baliho, dll tersebut tidak bermanfaat. Malah membuat orang semakin apatis terhadap politik bangsa ini. Di samping itu, kalo ada lembaga/orang yang menghitung berapa jumlah uang yang berputar secara ‘gelap’ di tengah krisis ini, maka angka yang mengejutkan akan kita dapatkan. Contohnya saja, dua orang teman yang menjadi caleg, salah satunya telah habis 50 juta dan satunya lagi lebih daripada itu. Itu belum sampai hari pemilihan, masa kampanye masih satu bulan lagi. Ini sudah masuk kategori irit, masih banyak caleg yang lebih boros lagi. Berani sekali, mempertaruhkan uang dalam jumlah besar untuk satu posisi yang belum pasti didapat. Peluang memperoleh kursi kecil sekali.

Kalo dilihat, pasti angka golput akan bertambah lagi. Mungkin kali ini melebihi 50% dari pemilih — mungkin lho, ini cuma tebakan seperti seorang dukun yang sedang menebak tanpa harus didasari data statistik yang valid. Angka golput yang tinggi ini tidak terpengaruh oleh fatwa MUI yang menyatakan golput adalah haram dan himbauan PKS untuk tidak golput, karena itu dosa mungkin. Hehehehehe, konyol sekali bukan? hah.. golput koq haram. Banyak orang sih bilang kalo dibalik fatwa Continue reading “centang saja”

Memilih Hidup Menjadi Terang :)

Kali ini, ngumpul-ngumpul dengan teman-teman radio komunitas yang tersebar di daerah Cirebon. Tempat ngumpulnya di radio komuitas Caraka (Cara Urang Balaka; Cara Orang Berterusterang). Sebuah radio komunitas yang terletak satu jam dari kota Cirebon ke arah Bandung. Di radio komunitas ini relatif menarik karena terletak diantara dua budaya yang berbeda, antara budaya Sunda dan Jawa. Kadang terdengar orang-orang menggunakan bahasa Jawa khas Cirebon, di lain waktu terdengar orang berbicara dengan menggunakan bahasa Sunda. Sehingga, di radio ini memiliki program acara yang bilingual, Jawa dan Sunda.

Dalam forum ini, ada yang menarik yang ingin kuceritakan. Salah seorang peserta diskusi menyentil di tengah serunya diskusi. Kita sedang berbicara mengenai identifikasi masalah yang ada di radio komunitas. Peserta tersebut bercerita seperti ini, di Kecamatan Gebang salah satu kecamatan di Kabupaten Cirebon, sebagian besar orang bekerja sebagai buruh migran. Ilegal atau legal. Di kecamatan ini, rata-rata rumah mereka cukup mewah, bertingkat, berlantai keramik, finishing yang mewah, dan berisi barang-barang yang bagus. Mirip seperti perumahan di kota-kota besar.

Continue reading “Memilih Hidup Menjadi Terang :)”