Pentingnya Business Plan pada Startup

Indonesia punya wajah baru yang lebih optimis. Setidaknya ini terjadi pada kaum mudanya khususnya di lingkungan yang saya kenal. Pertama, lingkungan gerakan-gerakan sosial yang mencoba menegakan dan menguatkan sendi-sendi yang masih rapuh. Luar biasa teman-teman saya ini :).

start-upDi sisi lainnya, di dunia baru saya, adalah lingkungan start up di bidang ICT. Entah apa itu start up karena definisinya yang dinamis, dan bukan itu poin tulisan ini. Jadi tidak usah dibahas di sini :D. Mari kita bahas sekelumit dinamika yang terjadi di dalamnya saja.

Masing-masing start up di Indonesia punya produk-produk yang keren. Harus saya akui, ide-idenya luar biasa. Sebagian sudah muncul sebagai pemain-pemain besar berskala nasional dengan putaran ekonomi yang tergolong fantastis. Ada sederet panjang contohnya, misalnya tiket.com, bukalapak, tokopedia, gantibaju, dan masih banyak lagi. 

Yang belum berhasil mencapai skala besar, juga lebih banyak lagi, termasuk saya dan Artikulpi. Belum. Para aktor-aktor yang belum berhasil ini, sekali lagi, punya produk dan ide-ide yang menarik mulai dari fashion, pendidikan, jejaring sosial, dan penyedian-penyediaan jasa lainnya. Coba saja lihat daftar peserta yang mengikuti event-event seperti iMulai, Indigo Incbator, dan event-event serupa lainnya. Event untuk mendorong start up yang baru muncul untuk terus tumbuh dari sisi ekonominya.

Dari sekian banyak ide cemerlang tersebut, selalu ada satu pertanyaan yang setidaknya bagi saya dan Artikulpi tidak mudah untuk dijawab, yaitu Business Plan. Ide dan produk boleh cemerlang, tapi tidak akan bertahan lama jika tidak memiliki Business Plan.

Business Plan bisa dirancang berbarengan dengan pengembangan produk kita, contohnya adalah pengembangan aplikasi ticketing, fashion, e-commerce, dan lainnya tentu sejak awal harus menghitung secara detail mengenai cost produksi dan pendapatan yang akan diperoleh, atau mekanisme bisnis yang akan terjadi.

Nah ini, perancangan Business Plan, menurut saya sekali lagi adalah hal yang terberat. Dan ini yang sering saya lihat masih sangat lemah pada produk-produk dari start up yang ada di Indonesia. Orang sering menyebutnya Monetize, tapi saya secara pribadi kurang nyaman dengan istilah ini. Karena ini bukan sebatas mengubah produk kita menjadi duit, tapi ini soal strategi dari awal dan komprensif mengenai membangun sebuah produk.

Namun memang ada kalanya keajaiban terjadi. Misalnya Google, Twitter, dan Facebook bukan muncul dengan Business Plan. Setelah proses berjalan, kemudian baru ketemu format bisnisnya. Akan tetapi, hal-hal seperti ini hanya terjadi karena kejeniusan tingkat tinggi disertai keberuntungan maha dasyat. Jadi tidak bisa terjadi pada semua orang.

Intinya, kita bisa punya ide hebat dan produk yang bagus, namun bagaimana dengan Business Plan-nya? Beri perhatian dengan proporsi yang seimbang antara dua hal ini, pengembangan produk dan strategi bisnisnya.

*Saya lanjut soal business plan pada produk-produk untuk social-change di sini.

One Reply to “Pentingnya Business Plan pada Startup”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *