Pengembangan OpenBTS dan Peluang Kerjasama dengan Operator Seluler

Hampir semua para pemilik telepon genggam mengetahui apa yang disebut dengan BTS (Base Transceiver Station) karena dengan infrastruktur ini, setiap telepon genggam mendapatkan sinyal untuk bisa melakukan komunikasi. Tanpa disadari, BTS menjadi bagian yang vital dalam kehidupan sehari-hari kita. Namun ternyata tidak banyak di antara kita yang mengetahui secara pasti dan spesifik mengenai teknologi yang ada di BTS.

Teknologi BTS adalah teknologi tinggi, berbiaya mahal, dan diatur dengan regulasi yang ketat, sehingga tidak heran tidak banyak orang bisa menjangkau dan mempelajari sistem informasi dan telekomunikasi ini. Namun saat ini, mulai banyak dikenalkan OpenBTS. Teknologi ini dianggap lebih ramah terhadap orang-orang yang tertarik pada pengembangan jaringan seluler.

Seperti apa OpenBTS tersebut? Berikut ini adalah uraian singkat mengenai pengertian dasar dan dinamika yang terjadi pada OpenBTS di Indonesia yang diperoleh dari berbagai wawancara dengan para pakar IT (information technology) dan sumber web.

Pengenalan OpenBTS

OpenBTS adalah sebuah aplikasi yang berjalan pada platform linux yang merupakan perangkat lunak terbuka. OpenBTS adalah downsizing dari BTS (Base Transceiver Station) pada umumnya. OpenBTS menggunakan perangkat keras yang bernama USRP (Universal Software Radio Peripheral) untuk memancarkan sinyal jaringan standar seluler (GSM). Open BTS juga menggunakan perangkat lunak yang terbuka Asterisk untuk menginterkoneksikan dengan jaringan telepon lainnya seperti PSTN (Public Switched Telephone Network) ataupun operator telekomunikasi lainnya dengan menggunakan VoIP (Voice over IP).[1]

Seperti yang telah banyak dituliskan bahwa pada tahun 2010, sebuah sistem OpenBTS dipasang secara permanen di Niue dan merupakan instalasi pertama yang tersambung dan dicoba oleh perusahaan telekomunikasi di Niue. Niue adalah sebuah negara yang sangat kecil dengan penduduk sekitar 1700 orang di tengah samudra Pasifik bagian selatan yang tidak menarik bagi penyelenggara telekomunikasi mobile. Struktur biaya OpenBTS sangat cocok untuk Niue yang sangat mendambakan layanan selular tapi tidak bisa membeli sistem base station GSM konvensional.

Dalam perkembangan OpenBTS di Indonesia, banyak disalahartikan sebagai cara berkomunikasi dengan gratis. Hal ini bisa dibuktikan misalnya dengan mengetikkan kata kunci OpenBTS pada mesin pencari Google, maka akan tampil saran pencarian yang kurang lebih seperti ini ‘OpenBTS Solusi Telepon Gratis’.

Pandangan ini tidak sepenuhnya keliru, namun sayangnya tidak sesederhana itu. Ada banyak hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan, misalnya ijin penggunaan frekuensi dan nomor telepon yang merupakan sumberdaya terbatas yang pengelolaannya diatur oleh negara, ijin melakukan interkoneksi dengan operator-operator seluler lainnya, standarisasi perangkat keras dan perangkat lunak, belum ada aturan yang spesifik mengatur soal OpenBTS, dan masih banyak pertimbangan-pertimbangan teknis dan non-teknis lainnya.

Namun fakta yang kita hadapi saat ini adalah OpenBTS telah mampu mencuri perhatian banyak pegiat teknologi informasi dan telekomunikasi. Hal ini bisa dilihat mulai banyaknya tulisan-tulisan, workshop, pelatihan, dan bahkan pertengahan tahun 2014 ini diluncurkan training center untuk OpenBTS di Universitas Surya di Tangerang.

Arti Penting OpenBTS

OpenBTS memiliki arti penting dari banyak sisi, walaupun ada juga pihak yang menganggap OpenBTS hanya sebagai teknologi angin lalu. Sejak OpenBTS mulai banyak didiskusikan di Indonesia, setidaknya teknologi ini memiliki arti penting seperti di bawah ini:

Pertama, pandangan yang melihat OpenBTS sebagai sebuah teknologi downsizing dari BTS pada umumnya sangat cocok digunakan sebagai bahan untuk penelitian di kampus. Teknologi BTS yang selama ini tak tersentuh untuk penelitian mahasiswa karena teknologi yang mahal, tingkat tinggi, dan persoalan ijin yang rumit saat ini bisa terselesaikan dengan kehadiran OpenBTS.

Dengan mekanisme kerja yang mirip dan dapat diupayakan oleh kampus atau lembaga-lembaga lain untuk pengadaannya membuat para mahasiswa atau yang berkecimpung di dunia TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) mendapat kesempatan mempelajari jaringan seluler secara lebih mendetail. Hal ini juga karena OpenBTS didukung oleh platform Open Source sebagai perangkat lunaknya sehingga para mahasiswa atau para pegiat TIK memiliki kesempatan luas untuk mempelajarinya.

Kedua, OpenBTS dianggap sebagai alternatif solusi teknologi telekomunikasi murah dan menjangkau semua lapisan masyarakat. Sifatnya yang Open Source dan harga perangkat kerasnya yang masih bisa dijangkau oleh banyak kalangan membuat banyak orang yakin bahwa OpenBTS suatu saat nanti bisa menjadi teknologi yang menghubungkan jalur komunikasi daerah-daerah terpencil di Indonesia. Keadilan tentang pemerataan infrastruktur telekomunikasi di seluruh wilayah Indonesia diharapkan terjawab melalui pengembangan OpenBTS. Walaupun dalam kenyataannya tidak semudah yang dibayangkan, karena dari sekian percobaan masih banyak hal yang perlu ditingkatkan baik secara teknis, kapasitas sumber daya manusia, maupun secara regulasi.

Ketiga, OpenBTS untuk kondisi tanggap darurat. OpenBTS memiliki potensi yang besar untuk menjadi teknologi yang bisa diandalkan untuk situasi gawat darurat. Sifatnya yang compact, portable, harganya yang terjangkau, dan dapat dilakukan oleh banyak orang menjadi solusi pada keadaan bencana yang membutuhkan respons cepat untuk membangun infrastruktur telekomunikasi yang sangat dibutuhkan. BTS yang rusak akibat bencana tentu membutuhkan waktu yang relatif cukup lama untuk bisa beroperasi normal, dan pada saat-saat seperti itulah OpenBTS akan memiliki peran yang sangat penting.

OpenBTS dan Regulasi

OpenBTS harus dilihat sebagai terobosan teknologi. Bukan karena saat ini belum ada aturan hukum yang mengaturnya maka dengan mudah kita memberi cap bahwa OpenBTS adalah teknologi ilegal. Sebagai sebuah terobosan teknologi maka OpenBTS merupakan sebuah inovasi yang jika menghasilkan manfaat yang besar bagi banyak orang, maka harus dibuatkan payung hukumnya untuk mengatur pemanfaatannya.

Diluar soal teknis, perbincangan mengenai OpenBTS hampir selalu dikaitkan dengan persoalan regulasi. Inilah muara dari semua diskusi dan menjadi landasan bagi perkembangan OpenBTS ke depan. Dalam regulasi telekomunikasi diatur beberapa pokok permasalahan yaitu[2]:

  1. Pemisahan antara jenis infrastruktur dan layanan
  2. Ketentuan mengenai penyelenggaraan (lisensi, hak labuh dll.)
  3. Pengelolaan sumber daya (frekuensi, penomoran, hak lintas dll.)
  4. Aspek standar teknologi dan peralatan (sertifikasi)
  5. Tata kelola pembinaan, hak, kewajiban, reward, punishment, dll.
  6. Praktek dan kewajiban bisnis tarif, pajak, PNBP, interkoneksi dll.
  7. Telekomunikasi khusus, kewajiban layanan universal, hal yang dilarang pengamanan, perlindungan konsumen/pengguna dll.

Di semua negara di dunia memiliki aturan yang highly regulated dan selalu merujuk pada aturan internasional yang dikelola oleh Badan PBB yaitu ITU (International Telecommunication Union). Dalam lembaga ini diatur standar-standar dan aturan-aturan pelaksanaan telekomunikasi yang dirumuskan oleh berbagai pihak yaitu pemerintah sebagai regulator dan pelaku-pelaku telekomunikasi.

Semua negara tunduk pada aturan dan standar-standar yang ditetapkan oleh ITU, termasuk Indonesia. Namun dalam implementasinya aturan-aturan tersebut bisa diadopsi sebagian yang menyesuaikan dengan konteks lokal. Aturan yang dianut khususnya dalam hal pengaturan frekuensi dan penyelenggaraan pelayanan seluler. Aturan dan standar telekomunikasi ini penting untuk diatur secara internasional karena memiliki saling keterkaitan antara suatu negara dengan negara-negara lainnya. Artinya teknologi yang diterapkan memiliki standar yang sama sehingga bisa saling berkomunikasi, misalnya dalam penetapan standar teknologi generasi 2G, 3G, dan 4G yang mana alokasi frekuensi harus kompatibel di semua negara sehingga dapat diterapkan dengan perlakukan yang sama.

Jika OpenBTS akan digunakan secara komersial, tentu harus menaati aturan-aturan yang berlaku baik aturan nasional dan internasional. Namun apabila OpenBTS yang tujuannya non komersial seperti digunakan untuk penelitian dan pengetahuan, kebencanaan, dan membuka akses telekomunikasi di daerah terpencil guna memenuhi hak publik justru dijamin UUD dan merupakan hak asasi manusia – menurut Universal Declaration of Human Rights, pasal 19 dan 26 tertulis bahwa akses informasi dan pengetahuan merupakan salah satu hak asasi manusia yang paling mendasar[3]. Sedangkan UU no 36 tahun 1999 tentang Telekomuniksi hanya mengatur mengenai dunia telekomunikasi dengan tujuan komersial, yang berbeda dengan OpenBTS yang bertujuan untuk kepentingan sosial.

Sedangkan dalam kaitannya dengan penomoran, Numbering Plan juga diatur di ITU. Nomor juga seperti layaknya frekuensi merupakan sumberdaya yang terbatas, karena tidak mungkin membuat nomor yang sangat panjang. Saat ini di Indonesia sudah mencapai 12 digit untuk telepon seluler, sedangkan maksimal penomoran adalah 14 digit. Oleh sebab itu, dilakukan recycle terhadap nomor-nomor yang sudah tidak dipakai lagi setelah tidak aktif selama periode masa tertentu.

Jika OpenBTS harus terhubung dengan jaringan publik maka harus memiliki sistem penomoran tersendiri. Saat ini OpenBTS bisa beroperasi dengan memberikan nomor ekstensi. Nomor juga terkait dengan tagihan yang dikelola oleh masing-masing operator seluler. Namun sampai saat ini belum ada kerjasama atau rencana kerjasama antara OpenBTS dengan operator seluler. Hal ini disebabkan karena belum adanya aturan, standardisasi di semua wilayah, dan sertifikasi terhadap perangkat yang digunakan.

Pandangan kedua ini sejalan dengan prinsip yang ada di dalam Pasal 20 Undang Undang Nomor 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi yang mengatur:

Setiap penyelenggara telekomunikasi wajib memberikan prioritas untuk pengiriman, penyaluran, dan penyampaian informasi penting yang menyangkut :

a. keamanan negara;
b. keselamatan jiwa manusia dan harta benda;
c. bencana alam; marabahaya;
d. dan atau wabah penyakit.

Artinya, dalam kondisi darurat semacam itu siapa saja yang mampu menyelenggarakan infrastruktur dan layanan telekomunikasi wajib diberikan prioritas dan keleluasaan tanpa harus memenuhi ketentuan umum yang berlaku seperti misalnya harus memiliki izin, menggunakan perangkat yang telah disertifikasi, bekerja di frekuensi yang telah ditentukan bahkan bisa menggunakan teknologi yang mungkin belum diterima atau diadopsi oleh peraturan yang berlaku bahkan mungkin termasuk yang dilarang untuk digunakan pada kondisi normal.[4]

OpenBTS dan Dunia Industri Telekomunikasi 

OpenBTS belum masuk dalam standar teknis yang ditetapkan oleh ITU dan pemerintah Indonesia. Masih banyak hal-hal teknis yang perlu dipertimbangkan sebelum dengan optimis memperkirakan OpenBTS akan menjadi pengganti BTS yang saat ini banyak digunakan. Ini karena OpenBTS melakukan minimalisasi terhadap teknologi BTS yang saat ini digunakan sehingga mengorbankan banyak hal dan memiliki keterbatasan-keterbatasan.

Jika menggunakan logika industri telekomunikasi saat ini maka harus mampu mengakomodasi permintaan yang unlimited. BTS saat ini yang teknologinya berbasis soft switch bisa mengakomodasi kurang lebih 90 kanal termasuk panggilan suara maupun data, serta memiliki kemampuan handling dan bersifat modular.

Selain itu ada juga persoalan mengenai jangkuan wilayah atau coverage area. Memperbesar daya pada OpenBTS tentu bukan jawaban satu-satunya karena dibutuhkan juga fitur-fitur tambahan agar sinyal-sinyal yang dikirimkan melalui OpenBTS yang saling beririsan tidak saling mengganggu. Jumlah OpenBTS yang diperbanyak untuk semakin menjangkau wilayah yang luas juga menyebabkan teknologi OpenBTS tidak lagi compact dan tidak praktis.

Saat ini operator seluler sudah mulai pindah ke teknologi yang berbasis IP, sehingga teknologi OpenBTS dan BTS pada umumnya itu sama. Yang berbeda adalah ukuran atau kapasitasnya. OpenBTS adalah bentuk yang paling sederhana dari BTS. Namun ada perbedaan, bukan saja menyangkut powernya saja melainkan juga menyangkut soal filter, bandguard, dan fitur-fitur lainnya.

Ini sebabnya dalam prakteknya OpenBTS diterapkan secara homogen dan sederhana. Sedangkan BTS umumnya bekerja sesuai standar teknis alat, frekuensi, ERP, dan fitur-fitur lainnya. Konfigurasi-konfigurasi ini tidak ada dalam OpenBTS, dan apabila ditambahkan fitur-fitur yang memiliki konfigurasi seperti BTS pada umumnya maka OpenBTS tidak lagi memiliki perbedaan dengan BTS pada umumnya dipakai sekarang.

Saat ini belum ada operator seluler yang menggunakan OpenBTS sebagai alat alternatif atau diproyeksikan akan menggantikan BTS yang dipakai sekarang. Hal ini karena menyangkut standardisasi yang membutuhkan persetujuan dari pemerintah. Jika belum ada standardisasi maka para penyelenggara layanan seluler tidak akan tertarik mengembangkan OpenBTS.

Selain itu, harus ada juga sertifikasi. Standardisasi dan sertifikasi harus berbasiskan pada kriteria-kriteria industri. Hal ini untuk menjamin masyarakat sebagai konsumen mendapat jaminan reliability dari layanan operator. Jika tidak ada jaminan ini, maka masyarkat sebagai konsumen tentu akan sangat dirugikan sekali.

Limitasi pada teknologi downsizing seperti OpenBTS tidak bisa digunakan sepenuhnya untuk kegiatan komersial karena tidak memiliki standar dan sertifikasi seperti yang dibutuhkan. Namun downsizing ini memiliki keunggulan karena bersifat portable dan relatif lebih mudah untuk dibangun dan dioperasikan misalnya untuk daerah-daerah kebencanaan atau daerah-daerah terpencil.

Di sisi lain, tanggapan industri telekomunikasi terhadap OpenBTS ternyata relatif terbuka. ICT Watch yang diwakili oleh Heru Tjatur yang pernah berdiskusi dengan perwakilan XL sebagai salah satu operator seluler di Indonesia mengatakan bahwa XL mau bekerjasama. Namun karena keterbatasan teknologi maka tidak dapat diadopsi serta merta oleh XL. Jika OpenBTS memiliki standar-standar yang sudah ditetapkan maka bukannya tidak mungkin untuk operator seluler menggunakannya dan bisa digunakan untuk masyarakat kecil. Ini menunjukkan bahwa industri telekomunikasi terbuka terhadap OpenBTS sebagai teknologi yang ramai didiskusikan saat ini, malah melihatnya sebagai peluang untuk kerjasama.

OpenBTS dan Kerjasama dengan Operator Seluler

Dari uraian di atas tampak bahwa OpenBTS saat ini lebih pada tujuan untuk kepentingan sosial dibanding sebagai kompetitor baru dalam dunia industri telekomunikasi. Ini seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa dunia industri telekomunikasi memiliki aturan-aturan yang cukup kompleks dan standar-standar teknis yang cukup tinggi seperti yang ditetapkan oleh ITU dan pemerintah Indonesia sendiri, yang mana relatif sulit dipenuhi oleh OpenBTS saat ini.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah dalam logika pelayanan telekomunikasi ini terdapat layanan yang sifatnya primer dan sekunder, atau dinas tetap dan dinas tidak tetap. Layanan sekunder bisa dibuat dan dikelola oleh masyarakat dengan tujuan tidak komersial, namun apabila ada operator primer yang sudah pasang dan atau akan memasang BTS maka layanan sekunder seharusnya berhenti. Dengan kata lain, OpenBTS yang sudah terpasang di suatu masyarakat harus ditarik apabila sudah ada operator seluler yang masuk ke daerah tersebut.

OpenBTS dengan segala sifatnya berpotensi digunakan di daerah-daerah terpencil yang tidak dikover oleh operator seluler selama ini, atau di daerah-daerah bencana yang jaringan telekomunikasinya putus. Dengan OpenBTS daerah-daerah terisolir diharapkan mampu membangun dan mengelola jaringan telekomunikasinya sendiri.

Hal ini sebenarnya peluang bagi operator seluler, karena ini adalah ‘pemetaan pasar’ yang gratis. Daerah-daerah terisolir yang dianggap kurang ekonomis bagi para pelaku usaha operator seluler, namun dengan terpasangnya OpenBTS maka kita akan memiliki data yang valid mengenai traffic, jumlah pengguna, atau potensi pasar di daerah-daerah tersebut. Berdasarkan data-data tersebut, kita bisa menarik kesimpulan dalam pertimbangan ekonomis apakah operator seluler bisa masuk ke daerah tersebut dengan menawarkan teknologi yang lebih baik atau tidak.

Ini berarti menguntungkan bagi dua belah pihak, yaitu masyarakat yang selama ini terisolir berpotensi mendapatkan pemerataan akses telekomunikasi, dan di sisi lain, pihak operator seluler mendapat peluang-peluang baru untuk melakukan perluasan wilayah jangkauan khususnya di daerah-daerah terpencil atau wilayah perbatasan. Atau dengan penerapan teknologi OpenBTS memungkinkan membuka peluang-peluang kerjasama baru yang berpotensi menguntungkan semua pihak.

Narasumber: 

  1. Onno W Purbo, tokoh teknologi informasi di Indonesia, yang popular karena segudang prestasi gemilang, karya, dan banyak penghargaan yang seringkali menghiasi laman-laman media cetak, online, dan TV.
  2. M. Salahuddien: adalah aktivis sejumlah organisasi, praktisi dan konsultan TI. Saat ini menjabat sebagai Pembina di Yayasan AirPutih http://www.airputih.or.id suatu organisasi relawan TI di bidang open source dan kebencanaan; fasilitator Indonesia BTSmerdeka Development Team.
  3. Dudi Gurnadi, aktivis praktisi dan konsultan TI, Koordinator project BTSmerdeka. Saat ini menjabat sebagai Pengawas di Yayasan AirPutih http://www.airputih.or.id suatu organisasi relawan TI di bidang open source dan kebencanaan; fasilitator Indonesia BTSmredeka Development Team
  4. Agus Triwanto, Direktur Yayasan AirPutih, suatu organisasi relawan TI di bidang open source dan kebencanaan
  5. Heru Tjatur, Wakil Ketua dari dewan penasehat ICT Watch sekaligus sebagai Technology Officer
  6. Dedy Hariyadi, praktisi open source yang sehari-hari bekerja di Teknik Elektro UGM
  7. Akhmat Safrudin, pegiat di Artikulpi, sebuah lembaga yang fokus pada pengembangan perangkat lunak

 

Referensi: 

  1. http://opensource.telkomspeedy.com/wiki/index.php/OpenBTS
  2. http://techno.okezone.com/read/2012/02/14/54/575669/berapa-biaya-untuk-bangun-open-bts
  3. http://www.biskom.web.id/2012/05/16/open-bts-solusi-komunikasi-gratis.bwi
  4. http://tekno.kompas.com/read/2011/12/13/15311895/Dengan.OpenBTS.Bisa.Telepon.Lokal.Gratis.
  5. http://tekno.kompas.com/read/2011/12/27/10461448/Dasar-Dasar.Merakit.OpenBTS.ala.Onno.Purbo
  6. http://www.detikinet.com/read/2012/01/10/113452/1811343/328/indonesia-bisa-jadi-pelopor-open-bts-dunia/
  7. http://www.detikinet.com/read/2012/01/10/103048/1811226/328/membangun-open-bts-apa-boleh-secara-regulasi
  8. http://dgk.or.id/archives/2011/05/09/ngoprek-openbts/
  9. Akhmat Safrudin, OpenBTS Teknologi Komunikasi Berbasis GSM Open Source, Yayasan AirPutih
  10. M. Salahuddien, BTSmerdeka, Solusi Mini Yang Dinanti. www.BTSmerdeka.org
  11. Dudi Gunardi, Uji Coba Outgoing Call BTSmerdeka, www.BTSmerdeka.org
  12. M. Salahuddien, Tinjauan BTSmerdeka Dari Kacamata Regulasi, www.BTSmerdeka.org
  13. AirPutih, Panduan Penggunaan Perangkat OpenBTS AirPutih

[1] Akhmat Safrudin, OpenBTS Teknologi Komunikasi Berbasis GSM Open Source (Jakarta: Yayasan AirPutih). Hlm 3.

[2] M. Salahuddien, Tinjauan BTSmerdeka dari Kacamata Regulasi (Jakarta: www.btsmerdeka.org)

[3] http://www.biskom.web.id/2012/05/16/open-bts-solusi-komunikasi-gratis.bwi

[4] M. Salahuddien, loc. cit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *