Part 3: Pondasi Pengembangan Startup

Sumber foto: yourstory.com
Sumber foto: yourstory.com

Kritikan paling banyak terjadi dalam dunia perkembangan Startups adalah soal dukungan nyata dari pemerintah. Dukungan nyata ini bisa berupa dukungan pendanaan awal, membangun regulasi yang memudahkan startups tumbuh dan berkembang[1], mendorong terbangunnya inkubasi, akselerator, coworking space, dan lain sebagainya.

Kritikan semacam ini tidak saja terjadi di Indonesia, melainkan di negara-negara maju juga mengalami hal serupa. Pemerintah dituntut merespon dan mendukung dengan perubahan-perubahan yang terjadi dengan cepat pada dunia startup.[2] Peraturan harus ditinjau ulang dan diubah sesuai dengan perkembangan. Australia juga mengalami masalah serupa dimana pemerintah dianggap tidak terlalu perform dalam merespon perubahan dan perkembangan yang terjadi pada dunia startup.

Kajian-kajian ilmiah yang diterbitkan di Australia juga memberikan banyak kritik mengenai peran pemerintah yang minim dalam mendorong pertumbuhan startup. Misalnya paper yang ditulis oleh StartupAUS, sebuah organisasi non-profit yang fokus untuk pengembangan startup di Australia menyebutkan bahwa sudah banyak yang dilakukan oleh pemerintah Australia dalam mendorong perkembangan startup sejak empat tahun lalu. Walaupun, seperti dikutip dari StartAUS bahwa di saat yang sama dukungan dari pemerintah juga terjadi pengurangan di beberapa level.[3]

Pegurangan dukungan dari pemerintah ini dicatat oleh StartupAUS terjadi sejak tahun 2014 dimana hanya sedikit kemajuan dan bukti nyata yang dilakukan oleh pemerintah Australia dalam membantu menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi oleh startup. Walaupun harus diakui bahwa tumbuh kembangnya startup yang bergerak di bidang teknologi tidak tergantung penuh pada pemerintah, misalnya bisa dilihat dari alasan-alasan mengapa mendirikan startup yang hampir semuanya tidak ada menyebutkan karena dukungan atau dorongan dari pemerintah.[4] Walaupun demikian, peran pemerintah tetap penting untuk lebih mendorong dan membuat ekosistem yang stabil untuk tumbuh kembangnya startup teknologi.

Namun, apakah beban terbesar ada di pundak pemerintah dalam mendorong dan menumbuhkembangkan dunia startup? Banyak pihak mengatakan bahwa aktor yang tidak kalah penting adalah dunia pendidikan, dalam hal ini adalah universitas. Dalam hal ini, pemerintah dan universitas atau dunia pendidikan dianggap sebagai jembatan yang menghubungkan celah antara potensi pertumbunhan ekonomi dengan kapasitas entrepreneur dan kemampuan menciptakan ekosistem yang mendukung.[5]

Berdasarkan data statistik dari para pendiri startup di Australia, 40.7% adalah lulusan sarjana atau S1, 41.2% adalah lulus pasca sarjana atau S2, sedangkan sisanya adalah lulusan S3 dan sebagian kecil yang lulusan SMU atau sederajatnya.[6] Ini menunjukan bahwa memang universitas memainkan perananan penting dalam menumbuhkan startup.

Peran universitas pada umumnya berada pada dua aspek yaitu pertama adalah mengembangkan kemampuan teknis dari mahasiswanya sehingga bisa bersaing dan mampu menghasilkan produk yang bermutu. Saat ini, dunia startup hampir sebagian besar menghadapi kendala yang sama di seluruh dunia yaitu kurangnya tenaga ahli di bidang teknis untuk sebenarnya adalah tulang punggung dari startup digital.

Peran kedua adalah menumbuhkan semangat kewirausahaan.[7] Sejak awal para mahasiswa sudah dibekali dengan kemampuan dan kemauan untuk mandiri dan membuat usahanya sendiri. Secara umum, kemampuan dan jumlah para talenta di bidang teknologi informasi, teknik, dan matematika di Australia sudah cukup bagus, misalnya Sydney berada di urutan keenam dalam hal mencitapakan talenta di bidang teknologi di seluruh dunia. Namun dari sisi kewirausahaan masih kurang, belum terlalu banyak startup yang berkembang di Australia. Itu sebabnya, universitas sejak awal sudah memberikan bekal dalam hal kewirausahaan sedini mungkin pada mahasiswanya.

Dua aspek tersebut menjadi penting dalam dunia startup, dan dua aspek tersebut tidak bisa lepas karena seperti quote “An important missing link between knowledge and its application is the entrepreneur”.[8] Boleh saja sebuah universitas atau negara menciptakan ilmuwan canggih-canggih, namun tanpa enterepreneur, maka ilmu pengetahuan tersebut sulit untuk diterapkan. Begitu pula sebaliknya, semangat kewirausahaan harus didukung oleh pengetahuan teknis di bidang teknologi informasi, komunikasi, dan teknik yang baik. Tanpa dua hal ini maka sangat tidak mungkin menciptakan startup yang memiliki kemampuan daya saing yang sifatnya global.

Namun dua aspek vital tersebut juga tidak bisa begitu saja ditanggung oleh universitas saja, melainkan sudah harus dipupuk dari kecil atau dari masa sekolah. Ini misalnya sekolah matematika dan science yang dengan sengaja dibuka oleh pemerintah Australia memiliki tujuan agar sedari kecil mereka sudah siap dengan dunia teknologi dan bagaimana menerapkannya di dunia nyata. Dengan demikian, sedini mungkin mempersiapkan bibit-bibit unggul dalam dunia startup maka di saat mereka sudah siap akan menjadi startup yang memiliki kemampuan untuk berkompetisi secara global.

Dalam konteks Indonesia, 69% mahasiswa ingin menjadi entrepreneur setelah lulus kuliah, dan 62% diantaranya ingin menjadi entrepeneur di bidang teknologi. Namun berdasarkan survei yang dilakukan oleh Victor Medina, kendala terbesarnya adalah kapastas sumberdaya manusia yang belum memadai. Para sarjana muda memiliki keterampilan profesional yang minim seperti kemamuan bahasa Inggris, pengetahuan komputer dan teknologi, berpikir kiritis dan mampu memecahkan masalah. Ditambah lagi dengan kualitas universitas yang masih jauh dari baik.[9]

Dengan keadaan ini, Indonesia terancam kekurangan sumberdaya berkualitas untuk pembangunan startup walaupun sektor ecommerce sedang booming. Minimnya tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional yang baik ini tentunya akan mengancam pertumbuhan ekonomi Indonesia sendiri, dimana tenaga kerja akan banyak didatangkan dari luar negeri karena ketidakmampuan tenaga kerja kita berkompetisi di dunia teknologi saat ini.[10]



[1] Crossroads-2015 halaman 21

[2] Crossroads-2015 halaman i

[3] Crossroads 2015 halaman 9

[4] Startup muster 2015 halaman 6

[5] Boosting high impact entrepreneurship halaman iv

[6] Startup muster 2015 halaman 5

[7] Boosting high impact entrepreneurship halaman iv

[8] ibid

[9] https://www.techinasia.com/talk/indonesian-students-entrepreneurs-but-lack-qualifications

[10] ibid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *