Part 4: Budaya Entrepreneur

Sumber foto: entrepreneur.com
Sumber foto: entrepreneur.com

Kebijakan dari pemerintah dan dukungan dari universitas dianggap sebagai faktor yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan startup. Namun faktor apa yang sebenarnya paling dominan yang berpengaruh dalam dunia startup? Ternyata yang paling berpengaruh adalah budaya entrepreneur, mengalahkan faktor-faktor lainnya.

The factors that contribute to a flourishing technology ecosystem have been well defined by researchers, policy makers and entrepreneurs: An entrepreneurial culture with a large number of active participants; mentoring from experienced entrepreneurs; a supportive regulatory environment; a culture of collaboration and networking; visible successes and role models; risk tolerance; easy access to risk capital; government policy with a long- term focus; and access to good technical skills. Many of these factors are cultural, rather than structural, and in many ways a strong culture comes prior to structural changes (e.g. greater access to capital or supportive regulation).[1]

Ada banyak contoh kasus yang menjelaskan bahwa budaya entrepreneur lebih berperan penting. Sebagai contoh tempat yang menjadi rujukan utama ketika membicarakan startup teknologi adalah Silicon Valley. Pada awalnya, Silicon Valley dan area di sekitar MIT memiliki ukuran dan karakter yang sama pada tahun 1970an. Namun menginjak tahun 1990an, Silicon Valley menjadi lebih dominan yang disebabkan karena ada budaya kolaborasi dan keterbukaan yang kuat dibanding area di sekitar MIT.[2]

Beberapa hasil riset juga menunjukan bahwa budaya entrepreneur tidak terbatasi oleh regulasi dari pemerintah. Bahkan berdasarkan data, aktivitas entrepreneur bisa berkembang dengan baik walaupun tidak ada regulasi pemerintah yang mendukung. Bahkan birokrasi yang rumit dan membutuhkan waktu lama tidak menghalangi aktivitas entrepreneur.[3] Australia adalah salah satu negara yang memiliki regulasi terbaik untuk entrepreneur. Namun Australia memiliki level yang lebih tinggi dalam hal ‘ketakutakan akan kegagalan’ dibanding negara-negara yang inovatif. Faktor ini pula yang membatasi perkembangan teknologi startup.[4]

Ini artinya perkembangan startup tidak berbanding lurus dengan dukungan pemerintah. Dukungan pemerintah sangat penting dalam mendukung perkembangan awal startup karena pada fase awal ini resiko yang dihadapi sangatlah besar.[5] Namun bukan berarti dukungan ini akan menciptakan lingkungan atau ekosistem entrepreneur yang baik.

Studi yang dilakukan oleh Richart Florida menunjukan bahwa hal yang paling penting adalah tempat atau kota yang nyaman untuk hidup dan memiliki budaya kreatif adalah faktor yang terbesar dalam menciptakan dan menarik startup yang inovatif. Dalam hal ini, Richard Florida menyebut sebagai Urban Density atau dalam konteks ini disebut dengan pengelompokan orang dan perusahaan. Pengelompokan ini misalnya dengan membuat tempat orang-orang kreatif dan para ahli IT berkumpul. Untuk itu, Richard Florida mengatakan bahwa secara organis, tempat yang baik akan membawa peluang ekonomi dan menarik orang-orang berbakat yang sangat dibutuhkan dalam kreativitas dan inovasi.[6]

Untuk itu, hal yang paling mendasar yang disebut oleh Richard Florida sebagai penentu pertumbahan ekonomi kreatif dan startup berbasis teknologi adalah tempat dimana orang-orang dari berlatar belakang yang beragam bertemu dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada.[7] Sehingga tempat tidak berarti sebuah ruang fisik semata, namun memiliki kultur entrepreneur yang merupakan ekosistem yang sangat baik untuk pertumbuhan startup sebagai bentuk pertumbuhan ekonomi berbasis pengetahuan.

Ada juga yang menyebut ‘Startup density’ yang merupakan faktor penting untuk menciptakan ekosistem yang baik. Hal ini maksudnya adalah orang-orang yang terlibat dalam startup teknologi baik berupa ahli teknis, pengusaha, pemodal, ahli pemasaran, dan lainnya sebagainya bekerja saling berdekatan. Dengan itu, pertukarang pengetahuan dan pembelajaran semakin intensif terjadi yang akan mendorong pertumbuhan dan ekosistem  serta jaringan yang lebih baik.[8]

Sydney adalah salah satu kota di dunia yang disebut sebagai startup city[9]  dimana konsep startup density juga berlaku di kota ini, dan merupakan kota terbanyak memiliki startup di Australia, 44%, diikuti oleh Melbourne 17%, Perth 9%, Brisbane 9%, Goald Coast 4%, Adelaide 3%.[10]

Walaupun dalam konteks Indonesia harus dilihat lagi soal Startup Density karena banyak diantaranya memilih untuk bekerja di rumah kontrakan karena biayanya lebih murah khususnya bagi bootstrap startups.[11]

 


[1] South East Queensland 2014: Startup Ecosystem Report halaman 10

[2] ibid

[3] PwC: The startup economy, How to support tech startups and accelerate Australian innovation, halaman 13

[4] ibid

[5] StartupAUS: Startup ecosystem mapping report, halaman 10

[6] Page 10: startup ecosystem mapping report

[7] ibid

[8] Documentation Tech Startup Action Plan halaman 38

[9] https://www.techinasia.com/talk/startup-cities-growing

[10] Startup Muster 2015 Report halaman 7

[11] Startup-Ecosystems in ASEAN Member states by Julia Smit, halaman 8

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *