Part 6: Infrastruktur dan Kesiapan Market untuk Startup

Sumber foto: iprem.ca
Sumber foto: iprem.ca

Ketergantungan terbesar pada ekonomi digital yang berbasis pengetahuan ini adalah pada infrastruktur telekomonukasi. Semakin baik infrastruktur telekomomunikasi yang mendukung maka semakin baik pula ekspansi dan perkembangan yang dilakukan oleh digital ekonomi ini. Data-data berikut menjelaskan lebih detail mengenai kesiapan infrastruktur dan perluasan pasar.

Saat ini, broadband atau jaringan pita lebar telah hampir sebagian besar bisa diakses oleh masyarakat Australia. Dengan kapasitas broadband supercepat yang dimiliki oleh Australia telah mampu membawa kemajuan di semua level, baik dari sisi bisnis, pemerintahan, maupun masyarakat umum. Setiap peningkatan 10% penetrasi broadband maka akan berdampak pada peningkatan 1% pada GDP. Dengan kecepatan internet sekarang saja, dampak internet di Australia sudah setera dengan industri ekspor bijih besi.[1]

Penggunaan data juga terus berkembang, tanpa dukungan broadband yang cepat maka tidak mungkin memenuhi kebutuhan yang berkembang pesat juga. Di tahun 2020, kebutuhan bulanan konsumen di Australia hampir mencapai 200GB, dan berpotensi mencapai 5TB pada tahun 2030 oleh sebab itu harus memiliki kecapatan sampai 10 Gbps.[2] Data dari laporan Deloitte yang didukung oleh Google menemukan korelasi kuat antara internet dengan pertumbuhan ekonomi di Australia yang di tahun 2010 mencapai 3,6% dan 2016 mencapai 7% dari GDP Australia.[3]

Pada konteks Indonesia juga mengalami hal yang serupa. Walaupun belum ada data spesifik mengenai pertumbuhan kecepatan internet dengan perkembangan ekonomi di Indonesia, namun dengan beberapa indikator kita juga mendapat fenomena yang sama mengenai kontribusi pertumbuhan internet terhadap ekonomi.

Namun berbeda dengan Australia, pertumbuhan internet di Indonesia dipicu oleh pengguna telepon cerdas dan penggunaan data. Pertumbuhan akses internet yang merata berarti juga pertumbuhan pasar. Pertumbuhan internet di Indonesia yang mulai menjangkau daerah-daerah di luar kota-kota besar berarti pertumbuhan jumlah pasar yang semakin besar.

Tahun 2015, pengguna yang menggunakan internet terbesar dari telepon seluler yaitu sebesar 85%, yang kemudian diikuti dengan menggunakan laptop/netbook, PC/Komputer, dan terkecil adalah dari tablet.[4] Sejalan dengan data tersebut, 43% dari pengguna seluler mengguna telepon pintar, dan hanya 15 dari penduduk Indonesia yang menggunakan laptop atau komputer.[5] Penggunaan internet didominasi oleh aktivitas di media sosial dan penggunaan terendah yaitu jual beli online yang hanya 11% dari total waktu penggunaan internet.[6]

Dalam riset yang dilakukan oleh Google dan Temasek tahun 2016 yang menyebutkan Asia Tenggara adalah pasar internet terbesar di dunia dengan Indonesia adalah negara tercepat pertumbuhan pasar internetnya.[7] Indonesia juga diproyeksikan akan memiliki 52% dari ecommerce di Asia Tenggara dengan nilai mencapai $46 miliar di tahun 2025. Di tahun 2015, Indonesia sudah menguasai 31% pasar ecommerce di Asia Tenggara.[8] Hal ini tentunya sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan internet dan pertumbuhan generasi muda dan kelas menengah.



[1] A Snapshot of Australia’s Digital Future to 2050 Halaman 9

[2] ibid, halaman 28

[3] ibid, halaman 30

[4] Internet Indonesia dalam Angka oleh Indriyatno Banyumurti halaman 8

[5] ibid halaman 23

[6] Ibid halaman 11

[7] E-Conomy SEA: Unlocking the $200 billion opportunity in Southeast Asia. Google and Temasek. Halaman 7

[8] ibid halaman 14

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *