Nama Daerah Transmigrasi

Menyenangkan bisa berkunjung ke sebuah wilayah yang dari dulu ingin dikunjungi. Kalimantan. Entah kenapa saya dari dulu tertarik berkunjung ke Kalimantan. Sekedar melihat secara langsung yang disebut dengan gambut, kebakaran, hutan, dan orang utan juga—untuk yang terakhir ini saya belum sempat temukan.

Akhirnya saya menginjakan kaki juga di Kalimantan, Banjarbaru tepatnya. Dari sini langsung meluncur ke Kuala Kapuas, salah satu kota tua di Kalimantan Tengah. Naik Ford Ranger, rasanya memang benar kata orang Jawa, “ono hergo ono rupo”. Di jalan yang berlubang, bergelombang, berpasir, berlumpur, dengan kata lain di Continue reading “Nama Daerah Transmigrasi”

Rujak Ragunan

Menurut pengamatan terakhir, terjadi relokasi besar-besaran pedagang di dalam Kebun Binatang Ragunan. Dulunya, kebun binatang penuh sesak dengan pedagang dan pengunjung, yang menyebabkan sampah ada di mana-mana. Kumuh. Tapi saat ini, mulai tertata. Pedagang-pedagang direlokasi ke bagian luar kebun binatang. Memang, kebijakan relokasi ini pasti tidak populis di mata para pedagang, tapi semua pilihan memiliki konsekuensi yang harus ditanggung. Sebaliknya, ini menjadi populis di mata pecinta lingkungan, pemerhati fauna, dan pengunjung kebun binatang karena tidak risih dengan tawaran-tawaran pedagang. Kebersihan lebih mudah dikontrol juga. Bersepeda tandem pun menjadi lebih nyaman dan romantis. Mengayuh di bawah pohon-pohon rindang, di sela-sela kandang binatang, dan dalam trek yang agak naik-turun. Eh… tapi bukan ini ide ceritanya.
Continue reading “Rujak Ragunan”

Nada dalam Serakan Genting

teringat lagu anak-anak dulu, ‘tik.. tik… bunyi hujan di atas genting’. Di setiap tik… tik… muncul nada yang beraneka ragam. Kalo telaten, bisa jadi rangkaian lagu yang indah. Kemaren saat main ke Majalengka, ada komunitas yang bernama JAF (Jatiwangi Art Factory). JAF ini membuat lagu-lagu yang dimainkan dengan gaya perkusi. Yang istimewa adalah mereka menggunakan genting sebagai alat musiknya. Merdu. Mirip seperti suara air hujan yang jatuh di genting. Kalo hujan tidak berirama, nadanya acak, kali ini dibawah garapan Tedy, nada-nada tersebut disusun menjadi rangkaian lagu. woow… Kreatif memang.
Continue reading “Nada dalam Serakan Genting”

Berbenah dengan Tata Ruang

Aku adalah orang yang percaya dengan logika bahwa tata ruang akan mempengaruhi kehidupan manusia. Penataan sebuah ruang, secara sengaja maupun tidak, akan menentukan kualitas hidup manusia yang ada di dalamnya. Hal ini bisa dilihat dari contoh-contoh yang tidak terkira jumlahnya, dari hal-hal kecil kehidupan kita sampai sesuatu yang besar. Contoh kecil misalnya, tata ruang dalam kamar atau rumah deh. Jika rumah sudah ditata dengan baik, misalnya dengan pilihan-pilihan mengikuti aturan fengshui atau aturan-aturan lain yang dipercayai, maka dijamin akan mempengaruhi kehidupan orang di dalamnya. Tata ruang menyangkut hal-hal kecil, letak pintu, jendela, memperhitungkan sinar matahari, arah closet dan letak kamar mandi, lokasi kebun, dan lain-lainnya. Intinya, aku mau bilang bahwa aku sangat nyaman dengan rumahku di Jogja saat ini. “aliran energi” yang ada di rumah ini karena tata letaknya membuatku selalu bisa menghilangkan kelelahan, kejenuhan, dan mengobati stres. Bagiku sudah sangat nyaman.

Hal ini berkebalikan dengan apa yang ada di kantorku. Woowww, kata listya saat pertama kali masuk ke kantorku, ruangan-ruangannya penuh dengan radiasi, tidak ada udara bersih, berdebu, penataan cahaya yang kacau, untel-untelan, tidak ada Continue reading “Berbenah dengan Tata Ruang”

Jogja dan Bunga

hari ini, 18 februari 09, aku pulang ke jogja lagi. aku pergi kali ini adalah terlama dalam 2 tahun terakhir. tahun 2007, aku pergi ke mentawai untuk emergency respon selama 3 minggu. sekarang cuma 2 minggu lebih sedikit. kepergiaan selama beberapa minggu ini terasa luaammaaa sekali, yang menyebabkan kangen tak tertahankan pada kota ini. jogja.

untuk itu, setibanya di jogja dengan kereta taksaka II jam 05.00, aku langsung menuju malioboro dari stasiun tugu. puluhan orang menyapaku sepanjang jalan menuju malioboro, mereka bilang “kemana mas? mari saya antar saja”. baik sekali bukan? Continue reading “Jogja dan Bunga”

wild valentine di Gunung Miwang

Kalo National Geographic punya program yang namanya ‘wild valentine’, maka kita juga harus punya tuh seri yang yang sama. Di national geographic itu ditampilkan bagaimana kehidupan binatang liar dalam melakukan fungsi reproduksinya. Ditayangkan tepat di hari valentine, hehehehe. Sehingga pas hari valentine, stasiun TV berbayar ini menyiarkan adegan-adegan ‘porno’, hehehehe.

Ceritanya, pas tanggal 13 februari kemaren naik ke Gunung Liwang. Liwang berasal dari bahasa Lampung yang Continue reading “wild valentine di Gunung Miwang”

Masih di Lampung.., hehehehe.

Kali ini kunjungan ke Lampung penuh dengan adrenalin. Berangkat dari Bandar Lampung menuju Kecamatan Krui di Lampung Barat yang katanya butuh 6 jam, ternyata membutuhkan 7 jam. Berangkat jam 22.00 sampai jam 05.00. Perjalanan melewati beberapa titik rawan, pertama pom bensin terakhir sebelum sampai Krui ternyata sudah tutup tengah malam, walaupun ada tulisan Buka 24 Jam. Sehingga kami sangat was-was karena 5 jam perjalanan tidak akan ketemu pom bensin lagi. Akhirnya, kami membeli bensi eceran. Kedua, modus kejahatan di tengah malam adalah kami berhenti untuk makan, ada sepeda motor King yang berhenti di dekat mobil (motor King yang sudah dipreteli identik dengan preman) dan kemudian mereka akan menaruh ranjau-ranjau kecil agar setelah jauh dari pemukiman ban mobil menjadi kempes. Saat itu lah mereka beraksi. Untungnya, sepeda motor yang menghampiri mobil kami yang terparkir tidak diapa-apakan, karena dengan sigap salah satu teman menghampiri mobil juga dan melakukan pengecekan.

Continue reading “Masih di Lampung.., hehehehe.”

Jalan pesisir barat lampung

Ada dua jalan menuju Krui, pertama dengan mengambil jalan utama yang akan tembus pada ibu kota Kabupaten Lampung Barat, Liwa. Kedua, dengan menyusuri pesisir barat Lampung. Hampir setengah perjalanan berada di kawasan pantai. Kami memilih jalan yang kedua, dengan asumsi perjalanan lebih dekat dan medan tidak sesulit jalur pertama. Jalur kedua lebih landai dibanding dengan jalur pertama yang penuh dengan tikungan tajam.

Di sepanjang perjalanan pulang dari Krui menuju Bandar Lampung, ada satu hal yang membuat kami berhenti dan mencari tahu. Hal ini adalah kapal barang Full King Panama terdampar di Pantai Melasti. Awalnya sih gak percaya, masa’ sih kapal barang yang guedenya minta ampun bisa terdampar begitu saja. Eh.. ternyata benar. Kapal barang itu sudah teronggok selama 6 bulan lebih. Konon sudah ditarik dengan dua kapal agar kembali ke perairan dalam, namun usaha ini gagal karena rantai-rantai yang menariknya putus. Tidak ada harapan. Kapal Panama ini terdampar pas di bibir pantai. Jika kita berjalan menuju kapal, maka tubuh kita akan terendam sampai pinggang saja. Tapi bisa dipastikan kita tidak akan naik, karena kapal ini begitu tinggi dan besar. Yang bisa kita sentuh cuma bagian dasar dari kapal saja. Perlu tali yang dibentangkan dari bibir pantai menuju dek kapal sebagai jalur transportasi.

Continue reading “Jalan pesisir barat lampung”

A BIT ABOUT LAWU

In that morning, we, me and tia, don’t have a fixed plan. Only one thing that we know, we have to go to some place which has good scenery. Our perspective about good scenery is everything which has relation to nature, not mall, big city, shopping center, etc. Recently, we have new hobby, camping. It is a moderate choice when we don’t have enough time and not strong enough to climb the mountain. At least, when we are camping, we also can breathe the cold air, fresh and clean. At that moment, our tentative plan is camping in Dieng. But then there was a new idea. I don’t know where the idea came from. It was just suddenly appears. And I said to tia, “we are going to climb Lawu”. And tia answered it with a great smile, symbolize she agreed. We also decided to invite some one who wants to climb the mountain. We were calling many our friends. And finally, only one man who accepted our invitation, his name is kelik. We were riding motor cycle to reach Lawu Continue reading “A BIT ABOUT LAWU”