Antara Yang Tua dan Yang Muda

Dalam Koran Kedaulatan Rakyat (KR), tanggal 28 maret 2007 halaman 9, terdapat foto dan berita “menarik”. Tertampang wajah kakek-kakek dan nenek-nenek yang memegang spanduk dari kertas bertuliskan “REZIM hari ini = REZIM OLIGARKI Kapital, IMPERATIF EKONOMI à PERTUMBUHAN EKONOMI à FUNGSI KEMISKINAN, dst”. Wah keren! (atau, “wah keren?”?) Aksi ini menolak RUU penanaman modal yang sedang dibahas di dunia nan jauh di sana, Jakarta. RUU yang berakibat pada bebasnya investor luar negeri untuk menanamkan modalnya di tanah air yang mulai kehilangan tanah dan airnya ini.

Dalam umur yang setua itu, masih bisa memegang spanduk dan berdiri dalam sengatan matahari yang terik di Solo. Konon menurut liputan KR, kakek-nenek yang berunjuk rasa tersebut sempat berorasi. Meniru gaya mahasiswa yang menarik otot lehernya, berteriak lantang, membela “kebenaran”! Spontan saja, banyak yang tertarik melihat kejadian ini, karena jarang sekali terjadi. Semangat!

Continue reading “Antara Yang Tua dan Yang Muda”

Ketika awalan bertemu akhiran

Banyak kalimat klise yang berkata seperti ini: “hidup baru dimulai ketika lulus kuliah”. Ini sih bagi yang kuliah dan akan menghadapi wisuda. Saat selesai pendadaran, seolah masalah klimaks dalam hidup telah selesai. Perasaan lega muncul. Senyum pun merekah ketika mengenakan toga. Tapi setelah toga dilepas, sepatu hitam mengkilat dilepas dan jas digantung, atau kebaya dilepas, maka kalimat “hidup baru dimulai ketika lulus kuliah” terlepas dengan nada mendesah.

Continue reading “Ketika awalan bertemu akhiran”

AI in indonesia review

Avian Influenza case re-emerged in the beginning of 2007, adding Indonesian bad record by taking 2 Indonesian lives away.  AI news on the printed media, TV, and radio had terrorized everyone. This case also contribute to image percept by community that government has no competence to solve any problem, not only poverty but also corruption and others. Do the cases get more and more? Where is the core of the problem lies, causing distraught in Indonesian government to handle this problem and also had successfully delivered Indonesia to the top of the world worst AI case? 

Continue reading “AI in indonesia review”

AI in indonesia

 

Indonesia is an archipelago country consists of variety of tribes, religion, and races. It also has variety of social economy level. There are hundreds tribes, 5 official religions and many beliefs.

Indonesian economy welfare is very low as can be seen in the low HDI figure. High Per capita incomes are distributed in several big cities only, while the rest of other small and remote areas are very low. With fact more 70% population lives in village areas (small and remote areas), which mean Indonesian economy level is very low.

This low economy level affected education sector. On average Indonesian people having low education level. Economy, education, social and cultural character exist leads to a certain perspective of the people when dealing with something. Within the HPAI control context, the people’s perspective and its base factors are some of the important things to be considered. This sophisticated society reflected in the sophisticate of HPAI control in Indonesia.

 

Continue reading “AI in indonesia”

Beras: Isu Usang yang Berulang

Tahun-tahun ini ternyata kita harus sadar bahwa kita dihantui bencana. Variasi bencana sangatlah beragam, mulai dari tsunami, gempa, banjir, tanah longsor, kecelakaan transportasi, gunung meletus, bom, SARS, flu burung, dan yang terakhir bencana beras. Siapa sangka beras akan menjadi bencana bagi kehidupan manusia (khususnya di Indonesia). Beras tidak lagi benda yang berfungsi untuk dimakan, namun beras juga memiliki “power” yang lebih luas.

Continue reading “Beras: Isu Usang yang Berulang”

SUBSISTENSI PERTANIAN BERSKALA KECIL

Pertanian, sektor yang tidak menarik lagi untuk dilirik di Indonesia, dan sektor yang hampir identik dengan kemiskinan. Terpuruknya pertanian Indonesia paska revolusi hijau (atau penyebab terpuruk pertanian adalah revolusi hijau?) menjadi bahan kajian yang harus kita cermati, karena pangan, bagaimanapun keterpurukan pertanian Indonesia, merupakan faktor yang paling vital bagi hidup manusia.

Berangkat dari kenyataan bahwa terjadi penyempitan lahan pertanian, khususnya Jawa, yang amat luar biasa, diikuti oleh ledakan jumlah penduduk yang membutuhkan pangan, angkatan kerja yang membengkak, produktivitas lahan menurun drastis, degradasi lahan, kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada sektor pertanian, “konspirasi” WTO, melambungnya harga pupuk dan pestisida, dan munculnya kompetitior-kompetitor baru yang siap melahap sektor pertanian Indonesia, yaitu China, Thailand, dll. Hal ini menunjukan pertanian Indonesia telah berada pada titik nadirnya. Kemudian, apa yang harus dilakukan? Dan bagian mana yang harus diperbaiki pada sektor ini khususnya untuk menjaga ketahanan pangan di tahun-tahun mendatang?

Continue reading “SUBSISTENSI PERTANIAN BERSKALA KECIL”

telak!

Membaca kembali karya-karya antroplogi tentang Indonesia (baca: jawa), seperti Lombard, Geertz, Hefner, Reid, dll, terkadang gambaran “obyektivitas” tentang jawa terpampang dengan jelas, bahkan vulgar. Seperti Lombard misalnya dalam master pieces-nya, Silang Budaya, yang mampu menggambarkan dengan spektakuler dari jaman kolonialisasi, masuknya islam, sampai kerajaan-kerajaan hindu-budha pra abad 15. Menarik sekali karena membedah dengan habis tentang jawa. Salut!

Continue reading “telak!”

Melokalkan Kampanye Pencegahan Flu Burung

“Flu burung? Ah…paling ndak jauh beda dengan tetelo. Gejalanya sama kok. Tiba-tiba ada ayam yang mati mendadak,” ungkap seorang bapak dengan tenang.  Sebagaimana kebiasaan orang Jawa secara umum, Ia pun memelihara unggas, seperti burung merpati dan ayam yang  kerap berjalan-jalan di pekarangannya. Unggas telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya. Benaknya tetap tak bisa memercayai bahwa hewan kecintaannya bisa membawa maut.

 
Entah berapa ribu orang yang masih mempunyai cara pikir  serupa seperti sepotong kisah di atas. Bahkan di Pasar Burung Ngasem di Yogyakarta, ada spanduk tertulis “Flu Burung: Penyakit Lama Kemasan Baru,” artinya mereka menganggap bahwa flu burung adalah sama dengan  penyakit burung lainnya. Hal-hal semacam ini menambah ketidak waspadaan warga terhadap ancaman flu burung. Di mana letak permasalahan yang menyebabkan warga belum juga waspada akan bahaya wabah penyakit ini? Padahal kasus kematian di Indonesia adalah yang tertinggi di dunia, yaitu dari 78 kasus 60 orang telah meninggal dunia.

Continue reading “Melokalkan Kampanye Pencegahan Flu Burung”